Untuk yang Sedang Bersiap

source: Canva

Yang namanya perempuan lajang, tiap kali keluar untuk berkumpul bersama teman sejawat yang juga lajang –atau ada lah satu dua yang sudah menikah, bisa dipastikan topik pembahasannya tak jauh-jauh dari masalah pernikahan. Dari mulai Dream Wedding-nya seperti apa, ingin menikah dengan lelaki seperti apa, mau tinggal di mana dan perintilan lainnya. Padahal, calon pun belum ada.

“Nanti, kalau sudah ada (calonnya), obrolan indah-indah kayak gini tuh kadang cuma bisa dikangenin doang, karena realitanya akan pelik,” sekali waktu, seorang teman mengingatkan. “Percaya deh, kunci dari pernikahan bahagia adalah menurunkan ego dan ekspektasi.” lanjutnya.

Banyak cobaan dalam menjaga perasaan, menjaga diri, menjaga hati dalam proses memantaskan diri ini. Apalagi bagi seorang perempuan. Ia ibarat kedai, yang menunggu kapan pengunjung datang. Ada yang sekadar ingin melihat-lihat, berteduh sejenak, membuka pintu, tapi tak jadi masuk, hingga ada yang merasa tertarik dan menetap sampai akhir.

Untuk memilih pasangan hidup, yang dengannya kita akan menjalani 24/7 bersama, menghabiskan sisa usia yang dititipkan, menua bersama, memang harus selektif. Bukan dari si perempuan atau laki-lakinya saja, tapi ada peran orang-orang terdekat pula di dalamnya. Wali, sanak saudara, tetua, guru, juga ulama. Karena menikah, bukan hanya urusan berdua, banyak yang harus terlibat di dalamnya.

Ada yang jauh lebih penting dari urusan Dream Wedding, yaitu persiapan mental, persiapan ilmu dalam pernikahan, persiapan beradaptasi dengan orang asing. Tentunya akan banyak perbedaan, banyak penyesuaian, banyak stok syukur dan sabar yang harus dimiliki.

Karena itulah, aku selalu tertarik untuk mendengarkan kisah orang-orang yang sudah lebih dulu berkeluarga. Bukan manis-manisnya saja, tapi juga pahit-pahitnya. Pertanyaanku yang selalu sama, aku lontarkan ke mereka, “Kenapa bisa yakin?” yang kemudian dijawab dengan jawaban yang intinya hampir sama, “Karena aku ngerasa klik aja dan merasa yakin kalau dia sosok yang aku butuhkan.”

Dari situ, terbentuk satu kesimpulan, bahwa menikah itu bukan hanya bermodal cinta dan perasaan. Memang harus ada dua poin itu, tapi bukan yang utama. Menikahlah dengan sadar. Sadar akan tanggung jawab baru yang akan hadir, sadar akan kehidupan baru yang akan dimulai setelah akad terucap. Bukan hanya soal apa yang diinginkan, tapi apa yang dibutuhkan.

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٢١

“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Allah ngasih kode, kok. Apakah dia orang yang tepat atau bukan, apakah kita sudah siap atau belum.

Berbagai paradigma terkait pernikahan, banyak berseliweran. Kita dapat menemukannya dengan mudah lewat layar kecil ponsel kita. Tak jarang, peliknya kehidupan rumah tangga menimbulkan ketakutan dan keraguan. Bagaimana kalau suamiku begini, bagaimana kalau ternyata dia begitu?

Kita lupa, bahwa dalam memilih pasangan, juga dibutuhkan keyakinan. Kalau belum yakin, ada istikharah. Kalau sudah mantap, kuatkan shalat hajat. Dalam proses mengenal pun, sudah selengkap itu dijelaskan oleh agama. Batasan-batasannya, apa yang dianjurkan dan dilarang. Kita hanya diminta untuk mengikuti road map tersebut. Pahami pelan-pelan, jangan tergesa-gesa. Mayoritas, fokus kepada siapanya, bukan ke bekal apa yang sudah dipersiapkan.

Lalu, bagaimana bisa tahu kalau persiapan kita sudah cukup?

Penilaian mutlak tentu saja datang dari Allah Yang Maha Tahu, tapi penilaian dari orang sekitar bisa menjadi referensi. Mintalah pendapat mereka.

Jika kita sudah pahami why and what for pernikahan dalam Islam, road map yang akurat akan kita jadikan referensi. Fiqh Munakahat, salah satu dari sekian road map yang penting dikantongi. Karena segala keraguan, pertanyaan terkait pernikahan akan kita temui solusinya di sana. Masyaallah, betapa kayanya Islam. Jika kita berpegang teguh padanya, akan selamat hidup kita dari berbagai ideologi kolonial. Tak ada lagi kelimbungan atas ideologi kolonial yang disuntikkan lewat figur-figur terkenal di luar sana. Lambat laun pemahaman atas yang benar itu benar dan yang salah itu salah, akan semakin menyeluruh. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bahkan sampai akhir hayat, kita perlu untuk terus belajar.

Ketika sudah menikah nanti, proses belajar itu akan ditempuh bersama. Saling mengimbangi dan melengkapi satu sama lain. Seru sekali, bukan?

‘Abdullah bin Mas’ud pernah berkata, “Sungguh jika umurku tersisa sepuluh hari lagi, aku akan lebih memilih untuk menikah, daripada menemui Allah sebagai bujangan.”

Konklusinya, daripada nge-galau mulu, kapan jodoh kita datang, lebih baik, siap-siap aja, yuk!

 

 

 

 

Recent Comments

    Archives