Musuh dalam Selimut

Souce : Pinterest

Banyak orang berprinsip, ‘yang penting aku baik, yang penting aku ngak mengganggu orang lain, hidupku aman dan tentram, cukup.’ 

Padahal, di sekitar kita, tanpa disadari, banyak sekali “musuh-musuh” yang mengintai. Mereka mengawasi siang dan malam. Mungkin juga lupa apa arti istirahat. Baginya, lengah adalah koentji. 

‘Sekadar menjadi baik’ ternyata tidak cukup membekali diri dari gangguan musuh. Ada benteng pertahanan besar yang harus kita bangun.  Agaknya terlalu jumawa, jika kita mengandalkan diri sendiri untuk memulainya. Dibutuhkan pasukan, yang meski sedikit, namun kokoh iman dan taqwanya. Ukhuwah untuk menggapai kejayaan.

Sebagai anak muda, kita terlena dengan panggung media sosial yang penuh sandiwara. Mudah sekali tenggelam dalam propaganda, hingga lahirlah fitnah di mana-mana. Banyak garis batas yang dilewati, norma agama menjadi tabu dan tak keren untuk ditaati, kalah oleh trend yang berganti-ganti. Nasihat Nabi, ‘alim ‘ulama, umara’ dan ulil amri, dianggap kuno, kalah oleh akun-akun bercentang biru. Bukannya tak boleh, aku pun masih sering mencari inspirasi di sana. Namun, berlatihlah untuk tidak menghabiskan waktumu yang berharga di depan layar ponsel. Jangan sampai abai dengan dunia nyata dan sibuk mencari validasi di dunia maya.

Tamparan kuat dawuh pak kyai menjadi awal mula kesadaran ini.

Tak sekali dua kali beliau mengingatkan, bahwa kita ini sedang tidak baik-baik saja. Kita sedang dijajah oleh kaum “Lan Tardho”. Ciri khas beliau dalam berpidato, menjadi sebuah memori yang lekat dalam ingatan. Di lain kesempatan, beliau juga menyampaikan penggalan ayat pembuka surat Al-Bayyinah:

لَمْ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ ٱلْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.”

Banyak sekali ulama yang membahas ayat ini di kanal-kanal Youtube mereka. Salah satunya, Ustadz Nouman Ali Khan yang bisa dilihat di sini

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ada dua golongan orang kafir; orang-orang musyrik dan orang-orang munafik. Singkatnya, mereka adalah Nasrani dan Yahudi, kaum yang dimaksudkan sebagai  “Lan Tardho” oleh Kyai Hasan.

Buaian halus nan lembut digencarkan oleh musuh-musuh invisible hand ini. Segala provokasi digencarkan, sengaja menjadikan pemuda –yang tak lain dan tak bukan adalah kita-kita ini, teralihkan fokusnya. Yang harusnya menjadi garda terdepan menghadang musuh, malah dengan bangganya menjadi londo ireng jaman now. Sayangnya, tak banyak yang menyadari kemunduran ini dengan dalih berinovasi, improvisasi dan si-si lainnya. Jangankan membela negara, yang ideologinya hancur porak-poranda dengan gubahan seenaknya, peduli dengan iman yang ada dalam dada pun rasanya masih tanda tanya.

Merdeka secara harfiah, maupun realita, akan menjadi isapan jempol belaka, tatkala para pemuda masih bermental cinta dunia, hari-harinya hanya disibukkan mencari cuan. Tanpa peduli keberkahan, halal dan haram, atau se-simple, ada atau tidaknya kebermanfaatan.

Yuk, kita bersisian, bergandengan tangan, untuk melawan kaum “Lan Tardho” dan “Lam yakuni aladzina kafaru” yang sudah memenjarakan kita di negara sendiri. Apakah tidak cukup segala tanda yang Allah berikan?

 

Recent Comments

    Archives