Metode Tafsir Ijmali

Imam Jalaluddin As-Suyuthi, salah satu penulis kitab Tafsir Ijmali

Sebagai penutup kitab suci sebelumnya, Al-Qur’an hadir sebagai pelengkap dan pedoman kehidupan umat manusia. Ayat-ayat yang terkandung di dalamnya menjawab segala tantangan dan keraguan. Allah mensucikan kitab ini dengan terjun langsung dalam menjaga keotentikan yang ada di dalamnya hingga hari kiamat nanti. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S Fussilat ayat 42 :

لَّا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهٖ ۗتَنْزِيْلٌ مِّنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ ٤٢

“Tidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakang (pada masa lalu dan yang akan datang). (Al-Qur’an itu adalah) kitab yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (Q.S Fussilat [41] : 42)

Keotentikan ini tentunya tidak terlepas dari jihad para ulama terdahulu, baik klasik maupun kontemporer, yang berjibaku menafsirkan Al-Qur’an. Dengan beragam latar belakang yang dimiliki, mereka berusaha untuk menjelaskan makna ayat secara tekstual maupun kontekstual, dengan metode, corak dan kecenderungan yang berbeda, sesuai dengan apa yang dibutuhkan umatnya pada masa itu. Sehingga lahirlah beragam kitab tafsir yang disusun secara ringkas dan padat, memudahkan para pembaca, baik pemula maupun yang sudah memiliki dasar keilmuan, untuk lebih mendalami pesan yang terkandung dalam kalam Ilahi. Kitab-kitab tafsir tersebut saling melengkapi satu sama lain.

Tidak semua orang Arab memiliki kompetensi untuk bisa memahami kandungan Al-Qur’an dan menganalisis maksud dibalik turunnya ayat tersebut. Maka dengan segenap upaya dan kemampuan dalam menafsirkan pesan langit tersebut, Al-Qur’an yang ada di hadapan kita hingga saat ini masih terjaga keasliannya.

Dalam menafsirkan Al-Qur’an diperlukan metode yang tepat. Apabila metode yang digunakan sesuai, maka akan menghasilkan ketepatan tafsir. Namun jika metode yang digunakan tidak sesuai, yang akan terjadi pun sebaliknya. Sebagai contoh, tafsir dengan metode ijmali hadir di masa sahabat, karena pada saat itu mayoritas umat Islam sudah mempunyai bekal dalam memahami kandungan ayat Al-Qur’an. Tentunya berbeda dengan kondisi saat ini yang termasuk ke dalam zaman modern, di mana permasalahan semakin kompleks dibandingkan generasi sebelumnya, maka metode tafsir tematik (maudhu’i) dirasa lebih cocok karena sesuai dengan realita kehidupan masyarakat dewasa ini.

Definisi Metode Tafsir Ijmali
Secara Etimologi, Metode adalah; cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud. Tafsir adalah menerangkan dan menjelaskan. Sedangkan Ijmal (serapan dari kata Ijmali) memiliki dua arti. Pertama: ringkasan atau ikhtisar. Kedua; secara umum atau tidak terinci.
Maka dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Metode Tafsir Ijmali adalah cara untuk menjelaskan atau menguraikan ayat-ayat Al-Qur’an secara ringkas dan tidak terinci.

Sejarah Perkembangan Metode Tafsir Ijmali
Perkembangan tafsir Al-Qur’an dimulai sejak zaman Nabi. Saat itu, belum ada satu orang pun yang berani menafsirkan Al-Qur’an kecuali Nabi. Adz-Dzahabi menuturkan bahwa turunnya kitab suci ini dalam bahasa Arab tidak sera merta membuat semua orang Arab dapat memahaminya secara rinci. Maka Rasulullah saw sebagai al-Mufassir al-Awwal menjadi rujukan utama dan satu-satunya untuk memahami lebih dalam tentang kandungan ayat-ayat Al-Qur’an semasa hidupnya. Dibutuhkan kajian dan analisa yang mendalam yang merujuk kepada Rasulullah yang atas izin-Nya diberikan kemampuan untuk menghapal dan memahamkan kandungan makna ayat kepada para sahabat.

Sesuai dengan firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 44 :
وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ٤٤

“Kami turunkan aż-Żikr (Al-Qur’an) kepadamu agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl [16] : 44)

Para sahabat memahami Al-Qur’an karena diturunkan dalam bahasa Arab, meskipun tidak mengetahui detailnya. Misalnya dalam surat Al-Fatihah dalam ayat Ghair al-maghdubi ‘alaihim wa laa al-Dhalliin, Nabi pun menafsirkan al-Maghdub sebagai kaum Yahudi, dan ad-Dhaliin sebagai kaum Nasrani. Begitulah kiranya contoh bagaimana cara Nabi menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan metode ijmali. Sepeninggal beliau, yang menggantikan posisi beliau adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka`ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Asy`ari dan Abdullah bin Zubair.

Selain 10 orang sahabat di atas, ada juga sahabat lainnya yang turut berperan dalam menafsirkan Al-Qur’an pada masa itu. Mereka adalah Abu Hurairah, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar dan Ummul Mukminin Aisyah ra. Penafsiran para sahabat ini diterima sangat baik oleh para tabi’in dan dari situlah terbentuk kelompok ahli tafsir Al-Quran di Makkah, Madinah dan Iraq.

Generasi tabi’tabi’in melanjutkan penafsiran tersebut dengan menambahkan pendapat dari mufassir terdahulu. Di antara mufassir di zaman ini adalah Sufyan bin Uyainah, Waki’ bin al-Jarrah dan Syu’bah bin al-Hajjaj. Dari merekalah, Ibnu Jarir Ath-Thabari memulai perjalanannya dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Terdapat dua pendapat terkait lafazh-lafazh Al-Quran. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa lafazh-lafazh Al-Qur’an adalah lafazh Arab kecuali sedikit saja yang diperselisihkan ulama. Lafazh yang diperselisihkan itu menurut Sebagian ulama adalah lafazh dari bahasa lain yang diarabkan kemudian digunakan sesuai kaidah bahasa Arab. Kedua, pendapat yang mengatakan lafazh Al-Qur’an adalah lafazh Arab murni berasal dari berbagai bahasa yang masuk kepadanya. Kedua pendapat ini sepakat, bahwa lafazh-lafazh sisipan itu tidak serta merta menjadikan Al-Qur’an bukan berbahasa Arab.

Balaghah Al-Qur’aniyyah yang mencakup majaz, tasrih dan kinayah, ijaz dan itnab yang sesuai dengan kondisi bangsa Arab pada saat itu. Namun Al-Qur’an lebih dari itu. Al-Qur’an mengandung makna yang lebih tinggi dari bahasa Arab dan kandungan makna yang lebih indah. Ini menandakan bahwa Al-Qur’an bukanlah kalam Rasul, tetapi benar-benar datang dari perkataan Allah swt.
Ada empat cara dalam melakukan metode penafsiran, yaitu : ijmali (global); tahlili (analitis); muqarin (perbandingan) dan maudhu’i (tematik).

Tafsir ijmali tidak memberikan rincian tafsir yang memadai. Penafsiran tidak diuraikan secara detail, sebab metode inilah yang pertama kali muncul dalam kajian Tafsir Al-Qur’an yang kemudian diterapkan oleh al-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain dan al-Mirghami dalam kitab Taj al-Tafsir. Jika dikaji secara historis, metode ijmali muncul di zaman nabi dan sahabat. Karena mereka hidup berdampingan dengan Rasul, maka belum diperlukan penafsiran secara detail dan menyeluruh. Umumnya mereka ahli Bahasa Arab, mengetahui secara baik Asbabun Nuzul, mengalami secara langsung ketika ayat Al-Qur’an turun, pemahaman mereka pun menyeluruh pada saat itu. Cukup dengan isyarat dan penjelasan global dari Nabi, mereka sudah memahami maksud dari kandungan ayat.

Pada dasarnya metode tafsir disesuaikan dengan kebutuhan umat di abad pertama. Maka berdasarkan dari sejarah tersebut, kebutuhan umat Islam terpenuhi dengan hadirnya tafsir Ijmali. Karena mereka tidak memerlukan penjelasan yang rinci dan mendalam. Meskipun tidak dapat dipungkiri, penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan metode ini terdapat banyak kekurangan. Tetapi ulama tafsir di masa setelahnya justru menemukan kemudahan dalam memahami tafsir ini, sebab dirasa lebih praktis dan mudah dipahami, sehingga banyak diterapkan dalam periode awal kajian tafsir.

Metodologi Tafsir Ijmali
Ada dua istilah yang sering digunakan, metodologi dan metode tafsir. Jika metode adalah cara-cara yang digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an, maka metodologi adalah ilmunya. Sesuai dengan namanya, metode penafsiran ini menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara singkat dan padat, tanpa menjelaskannya secara rinci dan detail. Seperti yang dikutip oleh Nashruddin Baidan dalam salah satu bukunya,

  1. Metode Ijmali menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an secara ringkas dengan bahasa yang umum dan mudah dimengerti. Sehingga banyak digemari oleh pembacanya. Bahkan lafaznya diupayakan mirip dengan lafazh yang digunakan Al-Quran (dalam bentuk sinonim).
  2.  Metode ini juga disajikan dengan bahasa yang tidak begitu jauh dari bahasa Al-Qur’an itu sendiri.
  3. Sistematika penulisannya sesuai dengan urutan ayat-ayat di mushaf layaknya tafsir tahlili. Bedanya, tafsir ijmali menafsirkan ayat secara ringkas namun tetap jelas dan mudah dimengerti. Sedangkan tafsir tahlili menguraikan secara rinci dengan penjelasan yang lebih luas, ditinjau dari berbagai aspek.
  4. Metode ini menuntut para mufassir untuk menafsirkan Al-Qur’an secara singkat dan global. Dengan uraian singkat dan bahasa yang mudah sehingga dapat diterima dan dinikmati oleh semua kalangan. Dari pemula hingga orang yang berpengetahuan luas. Urutan penafsirannya pun sesuai dengan urutan dalam mushaf, ayat per ayat dan surat per surat. Melalui metode ini pula mufassir berusaha untuk menafsirkan kosa kata Al-Qur’an dengan kosa kata lain yang ada di dalam Al-Qur’an itu sendiri.

Contoh Penafsiran dengan Metode Ijmali
Gambar di bawah ini adalah salah satu contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ijmali. Yaitu kitab tafsir al-Jalalain karya Imam as-Suyuthi. Dalam menafsirkan Al-Qur’an, Suyuthi tidak menggunakan bahasa yang rumit sehingga sukar dipahami. Ia hanya membutuhkan beberapa baris saja. Sebagai contoh dalam menafsirkan ayat pertama surat Al-Fatihah, Ia hanya menuliskan ayat tanpa menjelaskan secara detail, mengapa lafazh basmalah menjadi kesatuan ayat dalam surat Al-Fatihah, tidak terpisah seperti surat lain pada umumnya.

contoh penafsiran tafsir ijmali

Keunggulan dan Kelemahan Tafsir Ijmali
Keunggulan:

  • Praktis dan mudah dipahami.
    Metode ini menguraikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak berbelit-belit. Sehingga maksud dan isi penafsiran dapat diserap oleh pembacanya dengan mudah dan cocok untuk semua kalangan, khususnya pemula.
  • Tidak mengandung Israiliyat.
    Uraiannya yang singkat menjadi keunggulan bagi metode ini, karena terbebas dari kisah Israiliyat yang terkadang tidak sejalan dengan kedudukan Al-Qur’an sebagai kalamullah. Di samping itu, substansinya yang ringkas juga membendung beragam pemikiran spekulatif yang jauh dari pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri. Pemikiran itu umumnya bersumber dari tokoh teologi, sufi dan lain sebagainya.
  • Akrab dengan bahasa Al-Qur’an
    Bahasanya yang singkat dan padat, tidak membuat pembacanya resah dan kesulitan untuk membaca kitab tafsir, saking ringannya uraian yang diberikan. Model tulisan seperti ini tidak dapat dijumpai dalam kitab tafsir lainnya, sehingga menjadi keunggulan tersendiri bagi metode ini. Kelemahan:
  • Menjadikan petunjuk Al-Qur’an bersifat parsial.
    Maksudnya adalah, tidak dijelaskan secara rinci terkait munasabah ayat. Sehingga penjelasannya belum begitu menyeluruh terkait hubungan satu ayat dengan ayat lainnya.
  • Tidak ada ruang untuk menjelaskan analisis yang memadai.
    Karena pembahasannya yang ringan dan singkat, membuat metode ini tidak mempunyai ruang yang cukup untuk mencantumkan analisis yang mendalam dari berbagai ulama ataupun tokoh tafsir. Jadi, sekiranya pembaca ingin mendapatkan penjelasan tafsir yang rinci dan detail tentu saja tidak bisa menjadikan metode ini sebagai rujukan utama. Namun bukan berarti ini menjadi hal yang negatif. Sebaliknya, justru menjadi keunikan tersendiri bagi tafsir dengan metode ijmali.

Semoga bermafaat ya teman-teman 🙂

Referensi:

  • Al-Quranul Karim.
  • Adz-Dzahabi, Muhammad Husein, Tafsir wal Mufassirun, (Kairo: Dar al-Hadits, 1433/2012), Jilid 1
  • al-Qaththan, Manna Khalil, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Bogor: Litera Antar Nusa, 2013).
  • as-Shalih, Subhi, Mabahits fi `Ulumil Qur’an, (Beirut: Darul ‘Ilm lil Malayin, 1985).
  • as-Suyuthi, Jalaludin, Tafsir Jalalain, (Kairo : Daar al-Hadits, 1422/2001), Cet.3.
  • Baidan, Nashruddin, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an,(Jakarta: Pustaka Pelajar, 1988).
  • Ibn Mandzur, Jamaluddin Muhammad ibn Mukrim, Kamus Lisanul Arab, (Beirut: Dar Shadir, t.th) Juz 6.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, (Jakarta: 2008).
  • Khalil, Adil Muhammad, Tadabur Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar), 2018.
  • Mesra, Alimin, dkk, Ulumul Qur’an, (Jakarta: PSW UIN Jakarta, 2005).
  • Saleh, Ahmad Syukuri, Metodologi Tafsir Al-Qur’an Kontemporer dalam Pandangan Fazlur Rahman, (Jakarta: Sulthan Thaha Press, 2007).
  • Sanaky, Hujair A. H. “Metode Tafsir (Perkembangan Metode Tafsir Mengikuti Warna atau Corak Mufassirin)”, dalam Jurnal Al-Mawarid, Edisi XVII, tahun 2008.

Recent Comments

    Archives