Menakar Diri

Day 12 Ramadhan | Menakar Diri

Ibarat sebuah bejana, diri ini mempunyai kapasitas masing-masing. Tak menentu ukurannya. Dan tidak absolut seberapa takarannya. Namun yang perlu diketahui, tiap-tiap bejana itu berharga.

Apabila benar perawatannya, bejana-bejana tersebut akan berkilau menampakkan cahayanya. Besar atau tidaknya ukuran, tak jadi masalah. Asalkan tetap memberikan manfaat.

Terkadang bejana yang semula bersih, menjadi kotor, akibat keruh air yang mengisinya. Tak jarang pula sebaliknya, airnya sudah jernih, eh bejananya yang justru kotor. Namun jika disuruh memilih, mana yang lebih baik, aku pilih yang kedua.

Air yang jernih jika dialiri terus menerus, bisa membilas kotoran yang ada di dalam bejana. Sebaliknya jika airnya yang keruh, bejana yang semula bersih menjadi tercemar.

Begitu pula diri kita, air yang masuk ke dalam bejana, diibaratkan sebagai informasi yang masuk ke dalam diri. Apabila informasi yang masuk baik dan jernih, tentunya akan membilas segala kotoran di dalamnya. Sebaliknya, jika kita hanya mengandalkan diri yang kita anggap sudah bersih, lalu dengan jumawa menampung segala kekeruhan informasi yang masuk, kelamaan diri ini akan ikut terkontaminasi menjadi kotor.

Salah, jika ada yang bilang keimanan tak bisa ditularkan. Bisa saja kita tertular atau menularkan keimanan, sebagaimana air yang mengisi bejana. Tiap-tiap diri dibekali akal pikiran oleh Yang Maha Kuasa, ditambah hati dan indra lainnya untuk memahami hakikat Pencipta.

Masih ingat kan, pepatah terkenal terkait berteman dengan penjual minyak wangi? Begitu pula dengan berteman dengan kawan yang beriman. Akan ikut tertular kebaikan. Saling beresonansi mendulang amal pahala.

Maka takarlah bejana kita, takarlah diri kita. Apakah air yang masuk ke dalamnya sudah jernih, atau malah sebaliknya?

Recent Comments

    Archives