Hujan dan Rindu

Sebagian besar manusia, khususnya anak-anak bahagia jika hujan tiba. Karena dimasa inilah mereka bebas bermain air, becek-becekkan dan menyipratkan air dari kubangan dengan suka cita.

Sebagian lainnya mengeluh. Entah secara langsung atau cukup dalam hati. Menghitung berapa pekerjaan yang terpaksa ditunda karena datangnya hujan.

Lalu bagaimana menurutku?

Bagiku, hujan sama dengan rindu. Setiap rintiknya yang turun seolah menguapkan rindu tak terbilang. Aku tidak sedang berbicara kekasih hati. Sama sekali tidak. Rindu yang ku maksud adalah mengenai momennya. Momen yang terjadi dan menolak untuk dilupakan ketika hujan turun. Dengan siapanya bukan berarti tidak penting. Namun esensi dalam setiap momennya yang buatku lebih penting.

Aku akhirnya berusaha untuk tidak menjadi golongan kedua, yang mengeluh ketika hujan turun. Golongan lainnya ku kira lebih menarik untuk diikuti. Meski ketika kecil dulu Mama hampir tidak pernah mengizinkanku bermain hujan karena kondisi fisikku yang tidak bersahabat dengan hujan.

Menikmati hujan layaknya menonton putaran video kehidupan sebelumnya dalam bentuk ilusi. Mendengarkan gemericik air yang mengalir dan aroma tanah yang tertangkap penciuman membuat rindu semakin pekat.

Dinginnya cuaca bersamaan dengan hujan yang turun memaksa secangkir cokelat panas atau semangkuk mie instan untuk disantap sambil berbincang random dengan siapa saja ketika itu pun menjadi momen mengesankan.

Jika pun terpaksa berteduh dan menjeda semua pekerjaan, sejatinya masih ada pekerjaan lain yang bisa ku kerjakan tanpa membuang waktu. Bukan seperti yang lain, sibuk dengan gawai sambil menyumpal headset ke telinga. Kau tahu apa itu? Mengamati. Mengamati perjuangan penjual yang menyelamatkan dagangannya. Motor yang terpaksa menepi, payung yang dimekarkan, anak-anak kecil yang menjajakan jasa ojek payung sementara mereka kuyup kehujanan. Ibu yang melarang anaknya bermain hujan, ayah yang menutupi kepala buah hatinya dengan apa saja dan mereka yang terpaksa menerobos hujan karena berbagai alasan.

Selain rindu, hujan juga kelabu dan sendu.

Ketika hujan reda dan aktifitas kembali berlanjut, semacam ada sesal bercampur syukur. Sesal mengapa singkat sekali, dan syukur karena akan bertambah lagi momen yang akan diingat dan dirindukan ketika anugerah Tuhan ini turun.

Terimakasih Allah, telah menurunkan hujan. Karena tanpanya, padi dan segala tumbuhan tak kan bisa dinikmati, dunia akan menjadi terik dan manusia akan lebih sering mengeluh.
Terimakasih Kau jadikan hujan kesempatan terbaik untuk menengadahkan tangan kepadamu. Dan semoga doa yang selalu ku ucapkan ketika hujan turun bisa Kau kabulkan.

Nah, itu menurutku.
Kalau kamu bagaimana?

Jakarta, 12-12-18
Ketika hujan baru saja reda.

Recent Comments

    Archives