Bubur Diaduk vs Nggak Diaduk

Tinggal di penduduk dengan mayoritas umat muslim terbanyak di dunia nyatanya tak menjadikan Indonesia negara yang damai. Ada saja letupan-letupan kecil yang mengubah kawan menjadi lawan karena masalah perbedaan.

Kasihan nenek moyang kita dulu, berjibaku membuat semboyan negara “Bhinneka Tunggal Ika” tetapi ke-bhinnekaan yang kian menjamur, tak kunjung menunggalkan ke-ikaan bangsa.

Kalaulah saja, perbedaan masalah bubur diaduk atau nggak bisa dijadikan contoh, mungkin kita bisa hidup bersisian tanpa ada perkelahian.

Tim bubur nggak diaduk mungkin akan merasa jijik jika berdampingan dengan tim bubur diaduk. Namun realitanya, gak ada tuh yang sampe muntah karena beda selera saat makan sebelahan.

Well, aku cuma mau ngingetin masalah yang sebenernya selalu berulang setiap tahun.

Perbedaan, memang berkaitan dengan toleransi. Tapi yang perlu diingat, toleransi bukan saling menghargai. Kalo kata anak tiktok, “Gak gitu konsepnya, Ngab!”

Dalam hal remeh semisal bubur diaduk atau gak diaduk aja, kita bisa toleransi. Masa dalam beragama aja rumit kali. Boleh kita toleransi lintas agama, tapi jangan sampe intoleran dengan agama sendiri. Hehehe.

Yaudah jadinya kamu team bubur diaduk atau gak diaduk nih?

Recent Comments

    Archives