Ali Imran: 14

source: unsplash.com

Sudah lama tidak bersua, ya?

Akhir-akhir ini, cukup banyak hal berlalu-lalang di kepala. Silih berganti, memikirkan apa saja. Namun, bukannya bergerak, aku malah memilih untuk rebahan sambil melanjutkan scrolling media sosial. Sungguh tidak bermanfaat.

Hingga kemudian, aku bertemu dengan rekan-rekan di Kelas Gado-Gado. Bersama seorang mentor, yang mewakili sosok bapak bagi kami.

Anggota group ini lima orang, termasuk Pak Mentor. Siang dan malamnya, diwarnai dengan topik-topik diskusi yang berkesinambungan. Banyak sekali hal-hal rumit yang bisa disederhanakan lewat diskusi ini. Dari mulai sejarah, teknologi, psikologi, hingga isu-isu sosial. Tak ada habisnya bahan diskusi kami. Satu per satu anggota, menyuarakan pendapat dengan berani, sesekali Pak Dosen Mentor menengahi. Memaparkan instrumen dan kerangka pemikiran, hingga sampailah pada kesimpulan.

Sering sekali kami berdiskusi, menghabiskan malam, menggantikan jam-jam rawan overthinking. Maklum, kami sama-sama makhluk nokturnal.
Semua topik pembahasan kami selalu bermuara pada ayat-ayat Al-Qur’an, utamanya Ali-Imran: 14.

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Iya, nyatanya semua masalah yang ada di dunia ini bersebab dari faktor-faktor di atas.
1. Perempuan
2. Anak
3. Harta benda

Kita sering banget kan mendengar kalau dunia ini memang tempatnya ujian. Kalo bang haji Rhoma Irama bilang, “Kenapa semua yang enak-enak itu yang dilarang? Kenapa semua yang asik-asik itu diharamkan?”

Nah, jawabannya ada nih di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam pembahasan tentang Surga dan kenikmatannya (4/2174, hadits nomor 2822) disebutkan bahwa: “Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka itu dikelilingi oleh syahwat.”
Jleb banget kan?

Dari hadits itu kita bisa belajar, bahwa, untuk mencapai Surga, enggak semudah itu, Ferguso!

Ada perasaan enggak suka dan ego yang harus dikalahkan. Baik dalam suatu perintah, ataupun larangan yang Allah berikan. Kita dituntut untuk sabar dalam melaksanakannya dengan sepenuh hati. Misalnya nih, kita bela-belain buat ngikutin trend, supaya dianggap kekinian. Trend mengumumkan lamaran, trend bridal shower, pre-wed photo shoot, tebak jenis kelamin, dsb. Yang sebenernya enggak ada ajarannya lho dalam Islam. Tapi rasanya pengeeen banget ngelakuin, “Yang lain aja begitu, masa aku enggak?” hei, diingat lagi yuk haditsnya!

Begitupun dalam hal ibadah, ketika terbiasa baca Qur’an sehari sejuz, terus suatu hari futur dan keterusan, wah buat balikin mood supaya on track lagi target baca Qur’annya, beneran enggak mudah, kan? Tapi, yaa berdoa aja, Allahumma paksakeun. Iya, paksain aja guys!

Nah terus di bait kedua, hadits itu juga ngejelasin bahwa, neraka bakal dipenuhi sama orang-orang yang selalu menuhin hawa nafsunya. “Me time bentar ah.” Eh enggak kerasa udah khatam 3 season series atau drakor di Netflix. Yang wajib dilewatin, apalagi yang sunnah?! Itulah yang dinamakan syahwat. Sesuatu yang berlebih-lebihan.

Oke, sekarang kita beralih ke ayat 14 surat Ali-Imran yang selalu dibahas di Kelas Gado-Gado.

Pertama: WANITA
Pada prinsipnya ujian kehidupan disebabkan oleh tiga hal, Perempuan, Anak-Anak dan harta benda. Kenapa sih perempuan diletakkan di posisi pertama? Karena memang perempuan itu fitnah yang paling berat bagi kaum pria. Ini bukan aku yang ngomong, tapi Rasul kita, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Redaksinya begini, “Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih berat bagi kaum pria setelahku daripada fitnah Wanita.”

Al-Qurthubi menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa, fitnah yang ditimbulkan Wanita ada dua, sedangkan fitnah yang ditimbulkan oleh anak-anak hanya ada satu.
Kalian tau enggak apa dua fitnah itu?

Yang pertama, Wanita dapat membuat seorang suami memutuskan tali silaturrahim. Sering kan, kita denger, seorang istri yang merasa disaingi sama mertuanya sendiri, suaminya diminta untuk memilih antara istri atau orang tuanya, padahal keduanya bukan pilihan. Akhirnya rengganglah hubungan mereka.

Fitnah yang kedua, Wanita bisa membuat suaminya mencari uang di jalan yang tidak diperbolehkan, karena banyaknya tuntutan. Ini sih lebih sering lagi kita jumpai. Alasan seorang kepala keluarga berbuat curang dalam pekerjaannya, kebanyakan karena tuntutan istri yang ada-ada aja. Akhirnya muncullah Geng SSTI -Suami-Suami Takut Istri-

Sedangkan satu fitnah yang disebabkan oleh anak adalah, dari segi pencarian rezeki. Ya, namanya orang tua, pasti selalu berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan anaknya. Banyak sekali orang tua yang merasa gagal ketika tidak bisa memenuhi kebutuhan anaknya. Yang sebenernya kebutuhan itu ya enggak butuh-butuh banget juga. Kaya misalkan, beli gadget baru, padahal yang lama masih berfungsi, dan contoh lainnya.

Hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud agaknya perlu banget nih kita implementasikan, “Jangan engkau sediakan istrimu rumah-rumah (lebih dari satu), dan jangan ajarkan istrimu untuk menghambur-hamburkan harta.” Rasulullah menjadikan hadits ini peringatan untuk kita semua. Tentu saja, tujuannya adalah untuk kebaikan.

Jadi, buat kaum adam, harus bener-bener selektif ya dalam memilih pasangan! Jangan sampe kamu masuk ke dalam Geng SSTI nantinya. Kata Rasul: Jangan nikahin Wanita karena cantiknya, karena bisa aja karena dia cantik, jadi besar kepala. Jangan juga karena hartanya, karena bisa jadi, dia bersikap sewenang-wenang. Tapi nikahilah mereka karena agamanya. Itu lebih baik bagi kalian.

Kedua : ANAK
Pada dasarnya, tujuan pernikahan adalah memperbanyak keturunan. Karena dengan hadirnya anak, dapat menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya dan melanjutkan nasab. Namun, orang tua juga harus berhati-hati, karena dengan hadirnya, bertambah pula cobaan dalam kehidupan rumah tangga.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, anak menjadi fitnah yang mendorong orang tua dalam mengumpulkan harta untuk mereka. Harta ini tentu saja bertujuan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam ayat ini, memang, secara khusus disebutkan anak laki-laki. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan dalam kitab tafsirnya, bahwa hal ini juga berlaku bagi anak perempuan.

Anak laki-laki lebih disebut secara khusus karena mereka lebih utama, harapannya pun lebih besar, yaitu agar nama orang tua tetap dikenang dan disebut-sebut. Yang tentu saja bisa direalisasikan oleh anak laki-laki. Selain itu, anak perempuan ketika sudah menikah, akan berganti tanggung jawab kepada suaminya. Sehingga harapan untuk bisa berbakti dan merawat orang tua di usia senjanya pun digantungkan kepada anak laki-laki.

Bahaya yang mengancam anak perempuan pun juga lebih banyak ketimbang anak laki-laki, sehingga pengawasan kepada anak perempuan pun harus lebih ekstra.

Ketiga : HARTA
Para ulama berkata bahwa setidaknya ada empat jenis harta kekayaan, yang setiap jenisnya menjadi sumber kekayaan sekelompok orang. Emas dan perak, lambang kekayaan pedagang. Kuda al-Musawwah sumber kekayaan para Raja, binatang ternak menjadi sumber kekayaan bagi para penduduk lembah atau pedalaman, sedangkan sawah dan ladang menjadi sumber kekayaan penduduk desa.

Kita dianjurkan agar tidak berlebihan dalam menyikapi keempat jenis harta kekayaan tersebut. Sikap berlebihan yang dimaksud adalah, yang bisa menyebabkan lalai dalam menjalankan kewajiban agama. Namun apabila dilakukan secara wajar dan seimbang, bahkan menjadi wasilah dalam berdakwah, maka diperbolehkan, bahkan menjadi ladang pahala baginya dan bertambah kebaikan.
Ibnu Majah meriwayatkan hadits Sahih yang berbunyi, “Berzuhudlah terhadap dunia, maka Allah swt. Akan mencintaimu.”

Maksud dalam hadits tersebut adalah, kita dianjurkan untuk meninggalkan kesenangan dunia berupa kedudukan dan harta melebihi kadar yang dibutuhkan. Secukupnya saja. Kecukupan yang wajar tersebut dijelaskan lebih detail dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari al-Miqdam bin Ma’dikarib, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada bagi anak Adam hak (hajat atau kebutuhan) kecuali dalam beberapa perkara berikut, sebuah rumah tempat tinggal, pakaian yang ia gunakan untuk menutupi auratnya, roti tanpa lauk dan air.”

Ketika kita mulai hilang arah dan tujuan hidup, ayat ini menjadi reminder buat kita bersama. Bahwa dunia adalah hal yang remeh dan tidak berharga. Banyak cobaan di dalamnya, yang bertujuan untuk menguji kualitas penghambaan kita, mana yang paling baik amal baiknya, ia lah yang bisa memenangkannya. Dunia tak ada apa-apanya dibanding tempat kembali kita kelak di akhirat.

Sumber rujukan:

  • Tafsir Al-Qurthubi jilid 4
  • Tafsir Al-Munir jilid 2

Recent Comments

    Archives